Rabu, 13 April 2016

Makalah Lembaga – Lembaga Sosial



Tugas Makalah

SOSIOLOGI PEDESAAN

“Lembaga – Lembaga Sosial “


OLEH :

GORISMAN MATUALESI
L1A1 13 009


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016


I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Lembaga sosial dalam kehidupan sehari – hari biasanya adalah badan ilmiah, ikatan sarjana, berbagai bentuk organisasi yang mempunyai tujuan amal atau memelihara dan memperluas pengetahuan dsb. Namun dalam sosiologi, lembaga / social institution yaitu suatu kompleks atau sistem peraturan – peraturan dan adat istiadat yang mempertahankan nilai – nilai yang penting.
            Dalam keluarga terdapat sejumlah tugas yang harus dikerjakan oleh masing-masing anggota keluarga. Seluruh kumpulan tugas serta tanggung jawab soisal dari  masing-masing keluarga itu bisa berjalan dengan baik karena telah diatur dan ditentukan oleh masyarakat berdasarkan norma-norma yang telah disepakati secara turun temurun. Sistem norma yang menghidupkan (mengendalikan) keluarga adalah suatu pranata, sedangkan keluarga yang menjalankan aturan serta norma-norma tersebut merupakan suatu contah lembaga.
Lembaga sosial atau lembaga kemasyarakatan merupakan terjemahan langsung dari istilah asing sosial-institution. Namun pengertian lembaga lebih menunjuk pada sesuatu bentuk, sekaligus juga pengertian yang abstrak perihal adanya norma-norma dan peraturan-peraturan tertentu yang menjadi ciri-ciri lembaga tersebut.
            Norma-norma tersebut apabila diwujudkan dalam hubungan antar manusia dinamakan sosial organitation (organisasi sosial). Didalam perkembangannya norma-norma tersebut berkelompok-kelompok, ada berbagai keperluan pokok kehidupan manusia. Misalnya kebutuhan hidup kekerabatan seperti pelamaran, perkawinan, perceraian dan lain sebagainya. Kebutuhan akan mata pencaharian, seperti pertanian, peternakan, koperasi, industri dan lain-lain. Kebutuhan akan pendidikan menimbulkan lembaga-lembaga kemasyarakatan seperti pondok pesantren, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, perguruan tinggi dan lain sebagainya. Kebutuhan untuk menciptakan rasa keindahan menimbulkan seni rupa, kesusastraan, seni suara dan lain-lain. Kebutuhan jasmaniah manusia menimbulkan olah raga, pemeliharaan kecantikan dan pemeliharaan kesehatan, kedokteran dan lain sebagainya.
            Dari contoh-contoh diatas dapat disimpulkan bahwa didalam lembaga sosial terdapat didalam setiap masyarakat tanpa memandang masyarakat tersebut mempunyai taraf kehidupan yang biasa atau modern. Dan didalam lembaga sosial juga ada tiga hal yang penting yaitu adanya sistem norma,sistem norma mengatur kehidupan berpola, tindakan berpola itu untuk memenuhi kehidupan manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan Masalah yang dapat ditulis pada makalah ini adalah
a.       Apakah Pengertian Lembaga Sosial ?
b.      Bagaimana Unsur-Unsur Lembaga Sosial ?
c.       Bagaimana Proses Terbentuknya Lembaga Sosial ?
d.      Apa Fungsi dan Tujuan Lembaga Sosial ?
e.       Apa Jenis-Jenis Lembaga Sosial ?
f.       Bagaimana Cara Mempelajari Lembaga Sosial ?

1.3. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dan manfaat yang dapat ditulis pada makalah ini adalah
a.       Dapat mengetahui Pengertian Lembaga Sosial
b.      Dapat mengetahui Unsur-Unsur Lembaga Sosial
c.       Dapat mengetahui Proses Terbentuknya Lembaga Sosial
d.      Dapat mengetahui Fungsi dan Tujuan Lembaga Sosial
e.       Dapat mengetahui Jenis-Jenis Lembaga Sosial
f.       Dapat mengetahui Cara Mempelajari Lembaga Sosial


II PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Lembaga Sosial
Ada beberapa pengertian tentang lembaga sosial beberapa ahli, antara lain :
a.       Menurut Koentjadiningrat (1986) lembaga sosial adalah suatu sistem norma khusus yang menata suatu rangkaian tindakan berpola mantap  guna memenuhi suatu kebutuhan dan keperluan khusus dari manusia dalam kehidupan masyarakat.
b.      Menurut Berger,lembaga sosial adalah suatu prosedur yang menyebabkan perbuatan manusia ditekan oleh pola tertentu dan dipaksa bergerak melalui jalan yang dianggap sesuai dengan keinginan masyarakat.
c.       Menurut Polak (1964) lembaga sosial adalah lembaga kemasyarakatan.
d.      Menurut Soekanto (2002:222) lembaga sosial adalah kumpulan norma-norma dari segala tindakan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok didalam kehidupan masyarakat.
e.       Menurut Soerjono Soekanto (1997) lembaga social adalah himpunan dari norma-norma yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok manusia didalam kehidupan masyarakat.
f.       .Menurut Robert Mac Iver dan CH.Page lembaga sosial adalah bentuk-bentuk kondisi-kondisi prosedur yang mapan, yang menjadi karakteristik dari aktivitas kelompok, Kelompok yang menjalankan patokan tersebut di sebut asosiasi.
g.      Menurur Alvin L.Bertrand, lembaga sosial adalah kumpulan dari norma-norma sosial  yang telah diciptakan untuk dapat melaksanakan fungsi masyarakat.
h.      Menurur Summer, lembaga social  jika dilihat dari sudut kebudayaan diartikan sebagai perbuatan, cita-cita, sikap dan perlengkapan budaya, yang mempunyai sifat kekal serta yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat.
i.        Menurut Roucek dan Waren,lembaga sosial adalah pola-pola yang telah mempunyai kedudukan tetap atau pasti untuk mempertemukan bermacam-macam kebutuhan manusia yang muncul dari kebiasaan-kebiasaan dengan mendapatkan persetujuan dari cara-cara yang sudah tidak dipungkiri lagi,untuk memenuhi konsep kesejahteraan masyarakat dan menghasilkan suatu struktur.
      Dari definisi-definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa lembaga sosial adalah sekumpulan norma atau kaidah yang tersusun secara sistematis yang  mengatur pendukungnya dalam rangka mewujudkan kebutuhan masyarakat yang bersifat khusus. Dan untuk memfungsikan sekumpulan norma atau gagasan perilaku itu, setiap lembaga harus memiliki beberapa asosiasi atau organisasi.

2.2. Unsur-Unsur Lembaga Sosial
            Berdasarkan pengertian-pengertian lembaga sosial diatas dapat disimpulkan bahwa lembaga sosial mempunyai tiga unsur yaitu :
a.       Sistem norma
Sistem norma merupakan sejumlah norma yang terangkai dan berkaitan satu sama lain.norma-norma ini mempunyai kekuatan mengikat yamg berbeda-beda,ada yang kuat dan ada yang lemah. Atas dasar kekuatan mengikat ini maka dikenallah istilah kebiasaan, tata kelakuan, dan adat istiadat. Apabila norma-norma tersebut diatas dilanggar maka si pelaku akan dikenakan sanksi.
b.      Tindakan berpola
Tindakan berpola merupakan serangkaian tindakan yang saling berhubungan satu sama lain, sehingga membentuk suatu pola yang mantap. Dengan adanya tindakan berpola ini maka anggota masyarakat sudah mengetahui dan mengantisipasi lebih dahulu peran yang akan ditampilkan bila berhubungan dengan anggota masyarakat lainnya.


c.       Kehutuhan manusia
Sistem norma ynag mengatur tindakan-tindakan manusia berfungsi memenuhi kebutuhan manusia.Kebutuhan manusia yang beranekaragam inilah yang menjadi dasar terbentuknya kelembagaan masyarakat yang beraneka ragam.

2.3. Proses Terbentuknya Lembaga Sosial
Dilihat dari kekuatan mengikatnya,secara sosiologis ada empat macam norma yaitu :
1. Cara (usage), menunjukkan suatu perbuatan
2. Kebiasaan (folkways), menunjukkan pada perbuatan yang diulang-ulang.
3. Tata kelakuan (mores), tata kelakuan tersebut sangat penting, karena :
            a. Memberi batasan pada perilaku individu
            b. Mengidentifikasi individu dengan kelompok
            c. Menjaga solidaritas antar anggota masyarakat.
4. Adat istiadat, tata kelakuan yang kekal dan kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat.
            Norma-norma tersebut diatas setelah mengalami suatu proses pada akhirnya akan menjadi bagian tertentu dari lembaga kemasyarakatan. Proses suatu norma berkembang menjadi lembaga sosial tersebut disebut dengan instituzionalization atau pelembagaan. Dengan kata lain proses pelembagaan adalah suatu proses yang dilewati oleh suatu norma masyarakat untuk menjadi bagian dari salah satu pranata/lembaga sosial. Suatu norma dapat menjadi pranata/lembaga sosial dalam suatu sistem sosial tertentu apabila setidak-tidaknya mempunyai tiga (3) syarat yaitu:
1.      Bagian terbesar dari warga suatu sistem  sosial menerima norma tersebut
2.      Norma tersebut telah menjiwai bagian terbesar warga-warga sistem sosial tersebut.
3.      Norma tersebut mempunyai sanksi. 

2.4. Fungsi dan Tujuan Lembaga Sosial
            Secara umum fungsi lembaga sosial adalah digunakan untuk mengatur pergaulan hidup dengan tujaun untuk mencapai suatu tata tertib. Sedangkan tujuan utama diciptakannya adalah untuk mengatur agar kebutuhan hidup manusia dapat terpenuhi secara memadai, juga sekaligus mengatur agar kehidupan sosial warga masyarakat berjalan dengan lancer dan tertib sesuai denga kaidah-kaidah yang berlaku. Adapun fungsi dari lembaga sosial antara lain:
a.       Memberikan pedoman pada anggota-anggota masyarakat bagimana mereka harus bertingkah laku atau bersikap dalam menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat yang bersangkutan.
b.      Menjaga keutuhan dari masyarakat yang bersangkutan dari perpecahan atau disintegrasi masyarakat.
c.       Memberikan pegangan  kepada masyakat untuk mengadakan sistem pengendalian social (sosial control) artinya sistem pengawasan dari masyarakat terhadap tingkah laku anggota-anggotanya.

2.5.Jenis-Jenis Lembaga Sosial
Jenis-jenis lembaga social secara umum yaitu:
    1. Lembaga Keluarga
    2. Lembaga Pendidikan
    3. Lembag Politik
    4. Lembaga Ekonomi
    5. Lembaga Agama
            Menurut Soerjono Soekanto (2002:203), jenis-jenis lembaga sosial ada dua yaitu:
a.       Lembaga kemasyarakatan sebagai pengaturan
b.      Lembaga sosial yang sungguh sungguh berlaku apabila norma-norma tersebut sepenuhnya membantu pelaksanaan pola kemasyarakatan.

2.6. Cara Mempelajari Lembaga Sosial

Menurut Maclver dan Charles (1957:16-17) ada 3 cara mempelajari lembaga-lembaga sosial yaitu :
1.      Analisis secara historis. Analisi ini bertujuan untuk mempelajari sejarah muncul dan perkembangan suatu lembaga sosial.
2.      Analisis komparatif. Bertujuan menelaah dengan cara membandingkan suatu lembaga tertentu dari berbagai masyarakat ataupun berbagai lapisan sosial masyarakat.
3.      Analisis fungsional, dilakukan dengan cara menganalisis hubungan antar lembaga berdasarkan fungsinya.




III. PENUTUP


3.1. Kesimpulan
Adapun penyusun yang dapat simpulkan di dalam penyusun makalah ini di lihat dari pembahasan diatas adalah :
Hal–hal yang diceritakan di atas merupakan sebagian kecil dari pembahasan dan keriteria-kriteria lembaga sosial dan dari pembahasan di atas dapat disimpulakan bahwa lembaga sosial atau lembaga kemasyarakatan terdapat didalam setiap masyarakat tanpa memperdulikan apakah masyarakt tersebut mempunyai tarap kebudayaan bersahaja atau modern,karena setiap masyarakat tentu mempunyai kebutuhan - kebutuhan pokok yang apabila dikelompokan terhimpun menjadi lembaga kemasyarakatan.
Unsur-unsur lembaga sosial terdiri sistem norma,tindakan berpola,dan kebutuhan manusia,adapun proses terbentuknya lembaga sosial yaitu bermula dari norma norma yang ada dan menjadi kebiasaan sehingga dikenal, diiakui, dimengerti, ditaati oleh masyarakat. Adapun fungsi dan tujaun utama diciptakannnya lembaga sosial selain untuk mengatur agar kebutuhan hidupmanusia dapat terpenuhi secara memadai juga sekaligus mengatur agar kehidupan sosial warga masyarakat bisa berjalan dengan tertb sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.

3.2. Saran
Sebaiknya jika dikasi tugas oleh dosen harus di sampaikan kepada semua mahasiswa, sehingga tidak terjadi adanya mahasiswa lupa atau tidak tau kalau ada tugas yang diberikan dari dosen mata kuliah
DAFTAR PUSTAKA
Abdulwahid, Idat, dkk. 2003. Lembaga Sosial Dalam Masyarakat Sunda. Jakarta : Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Ahmadi, Abu.2007. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : PT. Rineka Cipta Gunawan, Ary H.2010. Sosiologi Pendidika. Jakarta : PT. Rineka Cipta
Bernard, Raho.2007.Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Daryanto.1994. Kamus Bahasa Indonesia Modern. Surabaya : Apolo Fuad, Ihsan.2003. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: PT. Rineka
Hasbullah, Cipta.2009. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Soekanto, Soerjono.2006.Sosiologi Sebagai Suatu Pengantar. Edisi Baru. Jakarta: PT Grafindo.
Sunarto, Kumanto.2004.Pengantar Sosiologi. Edisi Ketiga. Jakarta : Lembaga Penerbit Ekonomi Universista Indonesia.
Soelaiman, Munandar. M.1986.Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Bandung: Aditama.




.

Selasa, 29 Maret 2016

MANAJEMEN PENGGEMUKAN “Bahan Pakan Sumber Protein Pada Sapi “



Tugas Makalah
MANAJEMEN PENGGEMUKAN

“Bahan Pakan Sumber Protein Pada Sapi “


OLEH :

GORISMAN MATUALESI
L1A1 13 009


KELAS A

KELOMPOK 1

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016





I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pakan merupakan komponen biaya tertinggi dalam usaha peternakan yang dikelola secara intensif. Ketersediaan komponen penyusun pakan (terutama pakan konsentrat) yang terbatas dibandingkan dengan jumlah yang dibutuhkan, baik oleh manusia maupun ternak, menyebabkan Indonesia harus mengimpor bahan pakan dari negara lain. harga bahan pakan yang diproduksi di dalam negeri tidak terlalu jauh berbeda, sehingga pengusaha dan atau Bulog begitu mudahnya melakukan impor dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan dengan jaminan kualitas dan kuantitas. Hal ini menyebabkan pengusaha pakan ternak dan mungkin juga pemerintah tidak terlalu memberikan perhatian dalam peningkatan produksi bahan pakan dalam negeri maupun meningkatkan penggunaan bahan pakan alternatif yang belum lazim digunakan. Bahan pakan lokal selalu dikaitkan dengan harga yang murah.
Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan dan dapat dicerna sebagian atau seluruhnya tanpa mengganggu kesehatan ternak yang memakannya. Agar ternak peliharaan tumbuh sehat dan kuat, sangat diperlukan pemberian pakan. Pakan memiliki peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta tenaga bagi ternak dewasa. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan, jenis pakan yang diberikan pada ternak harus bermutu baik dan dalam jumlah cukup.
Pakan ternak, salah satu hal paling penting bagi para usahawan dan orang-orang yang bekerja di bidang peternakan. Pakan ternak sendiri merupakan makanan khusus untuk hewan ternak peliharaan kita seperti, ayam, sapi, kambing, ikan, dll. Bagi para usahawan ternak, pakan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hewan ternak kita, dengan komposisi pakan yang tepat tentunya akan membuat produksi peternakan kita jadi lebih baik dan maksimal hasilnya
Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan suatu bahan pakan, seperti jumlah ketersediaan, kandungan gizi, harga, kemungkinan adanya faktor pembatas seperti zat racun atau zat anti nutrisi serta perlu tidaknya bahan tersebut diolah sebelum dapat digunakan sebagai pakan ternak. Jumlah bahan yang tersedia di suatu daerah perlu diketahui untuk menentukan kelayakan ekonomi dalam penggunaan bahan tersebut. Informasi ini sangat perlu dalam perencanaan (formulasi pakan, volume produksi, dan biaya produksi) usaha peternakan. Dengan sentuhan teknologi akan sangat membantu mengoptimalkan pemanfaatan limbah pertanian dan produk samping industri pertanian sebagai sumber pakan alternatif.
1.2.Rumusan Masalah
Rumusan Masalah yang dapat ditulis pada makalah ini adalah
a. Apakah pengertian dari bahan pakan sumber protein?
b. Bahan pakan apa saja yang mengandung sumber protein nabati serta batasannya?
c. Bahan pakan apa saja yang mengandung sumber protein hewani serta batasannya?

1.3. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dan manfaat yang dapat ditulis pada makalah ini adalah
a. Untuk mengetahui pengertian dari bahan pakan sumber protein.
b. Untuk mengetahui bahan pakan yang mengandung sumber protein nabati serta batasanya.
c. Untuk mengetahui bahan pakan yang mengandung sumber protein hewani serta batasanya.

II PEMBAHASAN


2.1. Definisi Pakan Sumber Protein
Bahan baku sumber protein adalah bahan pakan yang mengandung protein tinggi. Bahan tersebut bisa berasal dari hewan ( hewani ) dan tumbuhan ( nabati ). Bahan pakan sumber protein tersebut misalkan bungkil kedelai, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, tepung biji karet,tepung ikan, tepung udang, dan tepung daging. Protein sebagai zat makanan yang sangat penting bagi tubuh karena selain berfungsi sebagai bahan bakar dalam tubuh juga berfungsi sebagai zat pembangun dan pengatur (Winarno,1991).
Penggunaan protein pada bahan pakan akan membutuhkan biaya yang tinggi sehingga memerlukan beberapa pertimbangan dalam pemberiannya untuk pakan ternak ruminansia. Protein merupakan zat makanan yang kritis, terutama untuk ternak yang berumur muda, ternak yang tumbuh cepat, dan ternak dewasa sperti sapi perah yang sedang berproduksi tinggi. Penggunaan protein secara optimal harus tercakup dalam sistem pemberian makanan yang praktis karena sumber protein umumnya lebih mahal dibandingkan harga bahan pakan sumber energi, dan pemborosan pemakaiannya meningkatkan biaya produksi ternak.
Pakan ternak berkualitas harus mengandung protein dalam jumlah cukup karena protein memiliki peran sangat penting untuk pertumbuhan maupun perkembangan ternak sapi. Berikut ini dijelaskan secara singkat mengenai peran dan fungsi protein pada ternak sapi.
  • Protein berfungsi memperbaiki dan menggantikan sel tubuh rusak, terutama untuk sapi tua atau lanjut usia.
  • Protein berperan untuk membantu pertumbuhan atau pembentukan sel-sel tubuh, terutama untuk pedet maupun sapi muda.
  • Protein berperan dalam mendukung keperluan berproduksi, terutama untuk sapi-sapi dewasa produktif.
  • Protein akan diubah menjadi energi, terutama untuk sapi-sapi pekerja.
Sapi muda fase pertumbuhan membutuhkan asupan protein lebih tinggi daripada sapi-sapi dewasa. Protein merupakan zat yang tidak bisa dibentuk atau diproduksi dalam tubuh, sehingga untuk mencukupi kebutuhan protein, binatang ternak harus mendapatkan suplai protein dari makanan. Oleh karena itu, pemberian pakan ternak harus memiliki kandungan protein dalam jumlah cukup bagi petumbuhan dan perkembangan sapi.
Untuk memenuhi kebutuhan protein, peternak atau pembudidaya sapi harus menyertakan protein tersebut saat memberiakn pakan. Beberapa sumber protein untuk membantu menopang pertumbuhan dan perkembangan ternak sapi diantaranya adalah:
  • Pakan hijauan, terutama memanfaatkan tumbuhan berasal dari famili leguminosae atau kacang-kacangan, seperti Centrosema pubescens, daun turi, lamtoro, daun kacang tanah, daun kacang panjang, daun kedelai, dll.
  • Makanan tambahan, terutama berfungsi sebagai makanan penguat, seperti bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, katul, tepung darah, tepung ikan, tepung daging, dll.
Perlu diketahui bahwa, pemenuhan kebutuhan protein berasal dari protein hewani memiliki kualitas lebih unggul dibanding dengan pemberian protein berasal dari protein nabati. Protein hewani mengandung asam amino esensial serta nilai gizi lebih kompleks. Bahan makanan yang memiliki kandungan protein bermutu tinggi adalah bahan makanan berkandungan protein mendekati susunan protein tubuh, misalnya protein hewani. Kelebihan lain dari protein hewani ialah protein tersebut lebih mudah diproses menjadi jaringan tubuh dengan resiko kerugian lebih kecil dibandingkan dengan protein nabati.
Kebutuhan protein pada hewan ternak ruminansia, seperti sapi, tidak begitu memerlukan kualitas protein bermutu tinggi karena di dalam rumen maupun usus banyak terjadi aktifitas penguraian oleh mikroorganisme yang terkandung didalamnya. Perlu diperhatikan dalam hal ini adalah untuk membangun kembali protein yang telah terurai, maka dibutuhkan protein berkandungan asam amino lengkap. Oleh karena itu, jika sapi peliharaan terpaksa hanya diberi pakan jerami, maka untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makan yang tidak terkandung pada jerami tersebut harus diberikan melalui pakan tambahan berkandunganprotein, lemak, dan karbohidrat tinggi. Selain itu, pakan ternak berupa jerami mengandung banyak serat kasar yang tidak mudah dicerna serta hanya sedikit sekali mengandung protein, lemak, dan karbohidrat.

2.2. Bahan Pakan yang Mengandung Sumber Protein Nabati Serta Batasannya
Beberapa bahan komersil sumber protein yang cukup penting dan merupakan protein tumbuhan ( nabati ) dan Protein asal hewani.
2.2.1. Bungkil Kelapa 
Bahan pakan ini merupakan hasil sisa pengolahan minyak kelapa. Daging kelapa yang dikeringkan sampai kandungan airnya dibawah 6% disebut kopra. Setelah kopra diambil minyaknya, maka bahan yang tersisa disebut bungkil kelapa. Tergantung dari cara pengambilan minyak, ada dua jenis bungkil kelapa. Yang pertama dihasilkan dari proses pengambilan minyak secara ekstraksi dengan zat pelarut, hasilnya disebut extracted coconut oil. 
Yang kedua dihasilkan dari proses pengambilan minyak secara ekstraksi dengan dipres, hasilnya disebut expeller coconut oil. Penyimpanan bungkil kelapa dalam suhu tinggi akan mempercepat proses ketengikan. Oleh karena itu harus diyakinkan bahwa bungkil kelapa yang akan digunakan dalam ransum ayam tidak dalam keadaan tengik, karena dapat menyebabkan diare. Bungkil kelapa dapat digunakan dalam ransum untuk ayam semua umur.

2.2.2. Kacang kedelai dan Bungkil Kedelai
Kacang kedelai utuh dapat juga digunakan sebagai bahan baku pakan ternak karena ketersediaannya di dalam negeri cukup memadai. Kecenderungan pasar dunia yang semakin membutuhkan bungkil kedelai telah menaikkan harganya, sehingga saat ini harga bungkil kedelai lebih mahal daripada kacang kedelai utuh.
Akhir-akhir ini telah ada suatu usaha untuk tetap mempertahankan kandungan minyak dalam biji kedelai. Kendala pemanfaatan kacang kedelai adalah kandungan racun alami yang terdapat di dalamnya. Racun alami tersebut berupa zat anti tripsin, yaitu zat yang dapat menghambat kerja enzim tripsin dalam menyintesis protein, sehingga akan menyebabkan pertumbuhan ayam terhambat. Meskipun demikian, racun tersebut dapat dihilangkan melalui proses pemanasan. 
Bahan ini mengandung protein sekitar 37 - 38%, sama dengan protein biji kedelai tetapi karena minyaknya tidak diambil, maka kandungan energinya lebih tinggi dari pada bungkil, yaitu sekitar 3300 – 3.510 kkal/kg; lemak 17,9%; serat kasar 5,7%. Karena bahan pakan sudah tidak lagi mengandung tripsin inhibitor maka pemakaian dalam ransum tidak terbatas. 
Bungkil kedelai merupakan limbah pembuatan minyak kedelai, mempunyai kandungan protein ± 42,7% dengan kandungan energi metabolisme sekitar 2240 Kkal/Kg, kandungan serat kasar rendah, sekitar 6%, tetapi kandungan methionin rendah. Penggunaan bungkil kedelai dalam ransum ayam dianjurkan tidak melebihi 40%. Walaupun dalam penggunaannya sangat dominan, akan tetapi memiliki zat anti nutrisi yang ada pada Kacang kedelai mentah mengandung beberapa trypsin, yang tidak tahan terhadap panas, oleh karena itu sebaiknya kacang kedelai diolah lebih dahulu.
            Selain mengandung protein, kedelai juga mengandung zat besi, kalsium, vitamin A dan vitamin B1. Protein kedelai merupakan satu-satunya leguminosa yang mengandung semua asam amino esensial. Asam amino tersebut tidak dapat disintesis oleh tubuh, jadi harus dikonsumsi dari luar. Meskipun kadar minyaknya sekitar 18%, tetapi ternyata kadar lemak jenuhnya rendah dan bebas terhadap kolesterol serta rendah nilai kalorinya.
         Bungkil kedelai tergolong bahan pakan yang mengandung protein tinggi. Kandungan nutrisinya 91% BK; 6,2% abu; 5,9% SK; 4,9% Lemak; 30% BETN; 44% PK .Bungkil kedelai yang baik biasanya berwarna krem dan teksturnya kasar. Bahan baku bungkil kedelai sering digunakan sebagai pakan ternak, karena disukai ternak unggas dan protein serta energinya sangat tinggi. Kadar asam amino essensial (lisin) sangat menonjol bila secara terpadu digunakan bersama bahan baku jagung. 
Bungkil Kedelai.jpg
2.2.3. Bungkil kacang tanah 
Bungkil kacang tanah mengandung asam amino methionin dan lisin yang rendah. Penggunaannya dalam pakan ayam tidak terbatas. Bungkil kacang tanah sangat mudah berjamur. Toxin yang sering terdapat dalam bungkil kacang tanah, yaitu aflatoxin yang dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus. Toxin ini dapat menyebabkan ayam kehilangan nafsu makan sehingga menurunkan laju pertumbuhan. Oleh karena itu bungkil kacang tanah yang berjamur sebaiknya tidak digunakan dalam pakan ayam. 
Kandungan energi metabolismenya sebesar 2.210 kkal/kg dan protein kasarnya 24 – 47%. Kendala pemakaian bahan baku ini adalah ketersediaannya mengandalkan impor. Selain itu, kandungan serat kasar yang cukup tinggi membatasi penggunaannya. Dua kendala ini masih ditambah lagi dengan sedikitnya kandungan asam amino esensial. Jika lokasi peternakan di dekat pabrik minyak kacang tanah, kendala ketersediaan dapat diatasi dengan memanfaatkan limbah atau bungkilnya. Kelebihan bungkil kacang tanah ini adalah meningkatkan palatabilitas. Ternak unggas menyukai aroma bahan baku ini. 
Peanut-Meal.jpg




2.2.4. Bungkil Biji Karet
Tanaman karet merupakan tanaman asli brazil yang mempunyai nama latin Hevea Brasilienis. Tanaman karet adalah tanaman berumah satu (monoecus). Pada satu tangkai bunga yang berbentuk bunga majemuk terdapat bunga betina dan bunga jantan. Penyerbukannya dapat terjadi dengan penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang. Pohon karet umumnya mulai berbunga pada umur sekitar tujuh tahun tetapi dapat dirangsang menjadi kurang dari lima tahun. Proses pemasakan buah berlangsung selama 5 – 6 bulan, sedangkan musim bijinya serlangsung sekitar 1,5 bulan. Berdasarkan proses pembuahannya biji karet dibedakan menjadi 3 golongan yaitu; biji legitim, biji prope legitim dan biji illegitim. (Cecep Haris Nurhidayat, 2009).
Biji karet mengandung protein dan energi metabolis yang tinggi sehingga penggunaan tepung biji karet dalam ransum bertujuan sebagai sumber energi dan sumber protein yang dapat diberikan pada unggas terutama ayam kampung. Berdasarkan kandungan gizinya, biji karet mengandung protein kasar 17,08 %, lemak kasar 25,23 %, serat kasar 17,58 % dan energi metabolis 2707,53 kkal/kg (Sutrisna,1997). Biji karet juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak dengan membuat tepung biji karet (Hevea brasiliensis Muel Arg).

2.2.5. Bungkil Biji Kapuk
Bungkil biji kapuk merupakan bahan pakan yang kurang disukai oleh ternak ruminansia, namun demikian konsumsinya tidak berbeda nyata jika dibandingkan dengan bungkil kedelai atau bungkil kelapa. Hal ini kemungkinan disebabkan karena bungkil biji kapuk tidak bisa berperan sebagai perangsang bau yang baik karena baunya tidak tajam. Selain itu rasanya yang hampir tidak terasa, disamping bentuk fisiknya agak keras dibandingkan dedak, bungkil kelapa dan bungkil kedelai. Oleh karena itu untuk pemberiannya pada ternak ruminansia sebaiknya dikombinasikan dengan bahan lain yang lebih merangsang bau dan rasanya (Ariani, 1981).
Bungkil biji kapuk mengandung serat kasar yang tinggi sehingga jarang digunakan sebagai pakan ternak non ruminan-sia. Jika bungkil biji kapuk tersebut digunakan sebagai pakan ternak ruminansia hambatannya adalah palatabilitasnya rendah dan terdapatnya senyawa beracun asam lemak siklo propenoat. Kandungan zat racun dari bungkil biji kapuk sangat tergantung dari cara pengolahan biji kapuk menjadi minyak. Asam siklopropenoat dapat berakumulasi dalam jaringan lemak ternak dan akan terbawa sebagai makanan manusia. Berdasarkan hasil penelitian Ayuningsih (2007),

Bungkil biji Kapuk.jpg




2.3. Bahan Pakan yang Mengandung Sumber Protein Hewani Serta Batasannya
Beberapa bahan komersil sumber protein yang cukup penting dan merupakan protein hewan ( hewani ) berasal dari tepung ikan, tepung daging, tepung udang. Secara garis besar dijelaskan oleh Church (1984). 1. Memiliki kandungan kalsium dan pospor yang lebih tinggi, terutama yang mengandung tulang. 2. Memiliki kandungan vitamin B kompleks yang tinggi. 3. Kandungan asam amino, terutama methionine dan sistine cukup baik.
 2.3.1. Tepung Ikan
Potensi bahan pakan ini cukup besar, namun sampai saat ini belum banyak yang dimanfaatkan, terbukti hingga saat ini tepung ikan yang digunakan untuk penyusunan ransum ternak di Indonesia masih import, misalnya dari Brazil, Jepang dan Thailand. Kualitas tepung ikan dipengaruhi oleh materi (jenis dan bagian tubuh ikan), proses pengolahan (pengeringan atau penghilangan lemak), dan penyimpanan. Kadar air yang tinggi akan memudahkan proses pembusukan oleh mikroba, sedangkan kadar lemak yang tinggi akan mudah tengik dalam penyimpananya. Pada proses pengolahan ikan yang kaya lemak untuk dibuat tepung, biasanya harus dimasak misalnya dengan penguapan atau pengukusan, selanjutnya diperas untuk mengeluarkan lemanknya dan akhirnya digiling.

2.3.2. Tepung Daging
Produk bahan pakan ini terutama diperoleh dari tempat pemotongan ternak, dimana karkas dipotong-potong menurut cara setempat untuk dijual. Tepung daging memiliki kandungan protein dan zat makanan lainnya yang berbeda-beda karena prosesing dan materialnya. Penting untuk diperhatikan bahwa pada umunya tepung daging defisien triptopan, sehingga bahan pakan ini kurang baik jika dicampurkan dengan jagung, karena jagung juga defisien asam amino triptopan.

2.3.3. Tepung Udang
Bahan pakan ini masih jarang digunakan untuk ransum ternak, ketersediaanya masih sedikit. Produk ini sebagian besar terdiri dari kulit badan dan kepala. Kandungan protein kasar tepung udang adalah 47,95% . Beberapa bahan pakan lain yang dapat digunakan sebagai sumber protein hewan, diantaranya adalah tepung darah, produk dari susu, sisa usaha ternak unggas, dan protein sel tunggal.


Tabel 1. Kandungan Nutrisi Tepung Ikan.

2.3.3. Tepung Bulu
Bulu ayam mengandung protein kasar sekitar 80-91 % dari bahan kering (BK) melebihi kandungan protein kasar bungkil kedelai 42,5 % dan tepung ikan 66,2 % (Anonimus, 2003).
Namun, kandungan protein kasar yang tinggi tersebut tidak diikuti oleh nilai biologis yang tinggi. Tingkat kecernaan bahan kering dan bahan organik bulu ayam secara in vitro masing-masing hanya 5,8 % dan 0,7 %. Nilai kecernaan yang rendah disebabkan bulu ayam sebagian besar terdiri atas keratin yang digolongkan ke dalam protein serat. Keratin merupakan protein yang kaya asam amino bersulfur, dan sistin. Ikatan disulfida yang dibentuk di antara asam amino sistin menyebabkan protein bulu sulit dicerna, baik oleh mikroorganisme rumen maupun enzim proteolitik dalam saluran pencernaan pasca rumen. Keratin dapat dipecah melalui reaksi kimia dan enzim sehingga pada akhirnya dapat dicerna oleh tripsin dan pepsin di dalam saluran pencernaan. Oleh karenanya, bila bulu ayam akan dimanfaatkan sebagai bahan pakan sumber protein, sebaiknya perlu diolah terlebih dahulu untuk meningkatkan kecernaannya. Tepung Bulu Terolah/ Terhidrolisa sebagai bahan pakan harus melalui suatu proses pengolahan terlebih dahulu dan hasilnya inilah yang dinamakan tepung bulu terolah sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pakan asal hewan yang potensial untuk mengurangi harga ransum yang berasal dari pemanfaatan limbah.
Keunggulan penggunaan tepung bulu ayam untuk ternak ruminansia adalah tepung mengandung protein yang tahan terhadap perombakan oleh mikroorganisme rumen (rumenund egradable protein/RUP), tetapi mampu diurai secara enzimatis pada saluran pencernaan pasca rumen. Nilai RUP berkisar 53-88 %, sementara nilai kecernaan dalam rumen hanya 12-46 %. Penggunaan tepung bulu ayam sebagai bahan pakan sumber protein ternak ruminansia merupakan salah satu pilihan yang perlu mendapat pertimbangan. Pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba rumen terutama bakteri selulolitik membutuhkan asam lemak rantai cabang(BCFA). Bakteri selulolitik menggunakan asam lemak rantai cabang sebagai kerangka karbon untuk sintesis protein tubuhnya. Asam lemak rantai cabang yakni isobutirat, isovalerat dan 2- metil butirat diperoleh dari protein pakan. Asam lemak rantai cabang ini adalah hasil deaminasi dan dekarboksilasi dari asam amino rantai cabang (BCAA) yakni leusin, isoleusin, dan valin. Bila kandungan asam amino rantai cabang pakan rendah maka asam lemak rantai cabang merupakan faktor pembatas pertumbuhan bakteri selulolitik.



III. PENUTUP


3.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditulis pada pembuatan makalah ini adalah
 Bahan baku sumber protein adalah bahan pakan yang mengandung protein tinggi. Bahan tersebut bisa berasal dari hewan ( hewani ) dan tumbuhan (nabati). Bahan pakan sumber protein tersebut misalkan bungkil kedelai, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, tepung biji karet, tepung udang, dan tepung daging. Kacang kedelai yang sudah dihilangkan kulitnya, bungkil kacang kedelai hasil ekstrasi solvent sering kali digunakan sebagai bahan pakan. Proses penghilangan kulit menghasilkan kandungan protein tinggi dengan serat kasar yang rendah. tepung kacang kedelai mengandung protein kasar 33%, Tepung biji kapas mengandung protein kasar 41% (asfed), tetapi dapat juga ditemukan yang mengandung protein kasar44 dan 48%. Tepung biji kapas cukup disukai oleh ternak ruminan, tetapi unggas dan babi kurang menyukainya jemur), Kualitas tepung ikan dipengaruhi oleh materi (jenis dan bagian tubuh ikan), proses pengolahan (pengeringan atau penghilangan lemak), dan penyimpanan, Tepung daging memiliki kandungan protein dan zat makanan lainnya yang berbeda-beda karena prosesing dan materialnya, Bahan pakan ini masih jarang digunakan untuk ransum ternak, ketersediaanya masih sedikit. Produk ini sebagian besar terdiri dari kulit badan dan kepala. Kandungan protein kasar tepung udang adalah 47,95%.


DAFTAR PUSTAKA

Buvanendran V., And J.A. Siriwardene. 1977. Rubber Seed Meal In Poultry Diet.
Ceylon Vet. Xviii : 33. Church, D.C. 1984. Liestock Feeds And Feeding. Second Edition. Published And Distribute By O & B Books. Inc, Corvalis, Oregon. Hal 133-159
Nadaradjah M., A. Abeysinghe, W.C. Dayaratne, And R. Tharma. 1973. The Potentialities Of Rubber Seed Collection And Its Utiliztion In Srilanka.
Rrsilbuletin 8:9-21 Ong K.H., And S.W. Yeong, 1977. Prosfect For The Use Of Rubber Seed Meal For Feeding Pigs And Poultry. Feedinstuffs For Livestock In South East Asia. Pp.337-344
 Parakkasi A, 1983. Ilmu Gizi Dan Makanan Ternak. Cetakan Ke Satu. Penerbit Angkasa, Bandung.
Tidi Dhalika, 1984. Pengaruh Penggunaan Bungkil Biji Karet Dalam Ransum Terhadap Performa Ayam Petelur. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Bandung.
Toh K.S., And S.K. Chia, 1977. Nutritional Value Of Rubber Seed Meal In Livestock. Feedingstuffs For Livestock In South East Asia. Pp. 345-351
Siswonoputranto P.S., 1981. Perkembangan Karet Internasional. Lembaga Penunjang Pembangunan (Leppenas)
Soetedjo, 1977. Karet. Penerbit Pt Surungan, Jakarta. Winarno, F.G. 1991. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.