Tugas
MANAJEMEN PENGGEMUKAN
“Program Sanitasi Atau
Biosekuriti Dan Karantina Pada Penggemukan Sapi Potong, Penyakit
Yang Sering Diserang Pada Sapi Feedlot, dan Vaksin Yang Sering
Digunakan Pada Penggemukan Sapi Potong”

OLEH :
NAMA :GORISMAN MATUALESI
NIM : L1A1 13 009
KELAS : A
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016
Program Sanitasi Atau Biosekuriti Dan Karantina Pada Penggemukan Sapi
Potong
Penanganan kesehatan merupakan salah satu hal yang memiliki
peranan penting dalam memperoleh pejantan yang sehat. Selain itu
ternak juga penting untuk diperiksa, agar dapat mendeteksi infeksi
penyakit-penyakit tertentu. Penyakit pada masing-masing jenis juga berbeda,
misalnya pada sapi Bali yang paling umum adalah Jembrana (Gregory, 1983). Adapun upaya yang dilakukan untuk menjaga kesehatan ternak
meliputi tindakan
karantina, pemeriksaan kesehatan harian,
penanganan kesehatan hewan, pemotongan kuku, desinfeksi kandang, kontrol
ektoparasit, pemberian vaksin, pemberian obat cacing, biosecurity maupun
otopsi.
1. Tindakan Karantina
Ternak
yang baru tiba di lokasi peternakan tidak langsung ditempatkan pada kandang/
tempat pemeliharaan permanent, tetapi tempatkan dahulu pada kandang sementara
untuk proses adaptasi yang memerlukan waktu sekitar beberapa minggu. Dalam
proses adaptasi ternak diamati terhadap penyakit cacing (dengan memeriksa
fesesnya), penyakit orf, pink eye, kudis, diare, dan sebagainya. Apabila
positif terhadap penyakit tertentu segera diobati dan lakukan isolasi. Dalam
adaptasi ini juga termasuk adaptasi terhadap jenis pakan yang akan digunakan
dalam usaha ternak kambing. Pada adaptasi ini biasanya harus disiapkan berbagai
obat-obatan untuk mengantisipasi terhadap kemungkinan timbulnya berbagai
penyakit. Setelah 7-21 hari ternak dalam keadaan sehat, maka siap untuk
dipindahkan dalam kandang utama
Tujuan
dari karantina adalah untuk memastikan ternak yang baru datang dari luar
wilayah peternakan terbebas dari penyakit. Kandang
karantina harus
terletak jauh dari lokasi perkandangan ternak pejantan yang lain, hal ini
bertujuan untuk menghindari penularan penyakit oleh ternak yang baru di
datangkan.
2.
Pemeriksaan Kesehatan Harian
Pengamatan kesehatan harian dilakukan setiap hari yaitu
pada pagi dan sore hari. Pengamatan kesehatan harian ini bertujuan untuk
memantau kondisi kesehatan ternak dan mengetahui ada tidaknya abnormalitas pada
ternak sehingga jika
ditemukan ternak yang sakit atau mengalami kelainan dapat segera ditangani.
Pada pagi hari pemeriksaan kesehatan hewan dilakukan sebelum kandang dibersihkan. Sedangkan pada
sore hari, pemeriksaan dilakukan sesudah sapi diberi makan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat
melakukan pemeriksaan kesehatan harian antara lain nafsu makan dari ternak,
mengamati keadaan sekitar ternak (mengamati feses, urin, dan keadaan sekitar
kandang apakah terdapat bercak-bercak darah atau tidak), mengamati keadaan
tubuh ternak normal atau tidak (bisa dilihat dari hidung, kejernihan mata,
telinga dan bulu ternak), mengamati cara ternak berdiri atau bergerak, ada tidaknya
luka atau pembengkakan serta ada atau tidaknya eksudat pada luka. Kondisi
feses feses yang tidak normal (encer) mengindikasiakan adanya kelainan atau
suatu penyakit pada sistem pencernannya. Adanya pengamatan kesehatan harian diharapkan abnormalitas
yang ada dapat ditangani sesegera mungkin dan apabila ada pejantan yang sakit dapat segera diobati. Saat
pengamatan kesehatan harian juga dilakukan recording atau pencatatan
abnormalitas yang terjadi sehingga terdapat data yang lengkap mengenai riwayat
penyakit yang pernah di alami oleh pejantan.
3. Penanganan Kesehatan Hewan
Penanganan kesehatan hewan bertujuan untuk melakukan pemeriksaan
dan penanganan medis pada pejantan yang sakit sehingga pejantan yang sakit
secepatnya dapat ditangani sesuai dengan gejala klinis yang timbul. Penanganan
kesehatan hewan dilakukan saat ditemukan adanya kelainan atau gejala klinis
yang terlihat pada hewan setelah dilakukan pengontrolan rutin.
a. Pemeriksaan Klinis
Ternak yang
terlihat menunjukkan adanya gejala klinis maka akan dilakukan pemeriksaan
klinis. Pemeriksaan klinis tersebut dilakukan Sebelum pengobatan. Pemeriksaan
klinis dapat dilakukan didalam dan diluar kandang (di kandang jepit).
Pemeriksaan klinis meliputi :
1) Pengukuran suhu tubuh melalui rektum dengan
cara memasukkan thermometer kedalam rektum dan dibiarkan selama 3 menit,
kemudian dibaca suhunya.
2) Pengukuran pulsus dilakukan dengan menggunakan
stetoskop.
3) Pengukuran frekuensi pernafasan dan lapang
paru-paru untuk mengetahui apakah frekuensi pernafasan hewan normal atau tidak.
4) Palpasi dilakukan dengan sentuhan atau rabaan
pada bagian yang akan diperiksa apakah normal atau tidak.
b. Pengobatan
Pengobatan
dilakukan apabila telah
ditemukan ternak yang di diagnosa sakit berdasarkan pengamatan
harian. Pengobatan ternak dilakukan
sesuai diagnosa yang telah ditentukan, dengan dosis obat
yang telah diperhitungkan sesuai kebutuhan ternak tersebut. Ternak yang sakit diistirahatkan
di kandang karantina hingga
dinyatakan sehat oleh bagian kesehatan hewan.
c. Pemberian Vitamin
Pemberian vitamin pada ternak dilakukan secara rutin sebulan sekali.
Vitamin yang diberikan antara lain adalah vitamin A, D, dan E. Pemberian
vitamin dilakukan untuk menjaga kondisi kesehatan ternak sehingga produkstifitasnya terjaga.
4. Pemotongan Kuku
Pemotongan kuku pada setiap ternak umumnya dilakukan secara
rutin yaitu setiap 6 bulan sekali. Tetapi apabila ditemukan masalah seperti
ternak yang kukunya sudah panjang atau antara kuku luar dan dalam panjangnya
tidak seimbang maka pemotongan kuku dapat dilakukan sewaktu-waktu sesuai
kondisi ternak tersebut. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembalikan posisi
normal kuku, membersihkan kotoran pada celah kuku, menghindari pincang,
mempermudah pada saat penampungan dan deteksi dini terhadap laminitis dan
kemungkinan terjadinya infeksi pada kuku.
Kuku harus mendapat perhatian terutama pada ternak yang selalu
berada di dalam kandang. Hal ini dapat menyebabkan kuku menjadi lebih lunak
karena sering terkena feses dan urine serta luka akibat terperosok dalam
selokan pembuang kotoran yang menyebabkan infeksi busuk kuku. Biasanya ternak
yang berada di kandang dengan lantai karpet pertumbuhan kukunya lebih cepat
dibandingkan dengan ternak yang berada di kandang berlantai semen. Hal ini
karena setiap hari ternak berpijak pada permukaan lantai yang kasar, sehingga
kuku sedikit demi sedikit akan terkikis dengan sendirinya. Alat-alat yang
digunakan adalah mesin potong kuku, kama gata teito (pisau pemotong kuku),
rennet, gerinda, mistar ukur, dan tali hirauci. Bahan dan obat-obatan yang diperlukan adalah perban,
kapas, Providon iodine, Gusanex, antibdiotik, antiinflamasi, dan salep.
Langkah-langkah dalam pemotongan kuku yaitu sebagai berikut :
a. Siapkan
peralatan untuk memotong kuku kemudian atur tali pada mesin potong kuku.
b. Keluarkan
ternak dari kandang, pastikan ternak sudah dimandikan dan diberi pakan.
c. Ternak
dimasukkan kedalam mesin potong kuku yang bentuknya seperti kandang jepit
kemudian ternak di restrain dengan tali penompang tubuh sapi dibagian tengah,
depan dan belakang tubuh sapi yang sudah dikaitkan pada mesin potong kuku
dengan cara melingkarkan tali pada bagian perut dan dada kemudian dikencangkan.
d. Kemudian
tekan tombol hidrolik untuk mengangkat sapi ke atas meja dan dibaringkan
terlebih dahulu. Proses pengangkatan tubuh sapi menggunakan sistem hidrolik
dengan 2 buah silinder sehingga proses pengangkatan lebih halus dan lebih
bertenaga.
e. Setelah
itu ikat kaki ternak dengan tali pada tiang mesin potong kuku yang terangkat
tadi. Perlu diperhatikan bahwa pada saat pemotongan kuku sebaiknya ternak
ditali dengan model Halter (tali kepala) yang ditambat kuat, sedangkan tali
nose ring ditambat sedikit longgar. Tujuannya supaya apabila ternak berontak
maka hidungnya tidak terluka atau bahkan terputus.
f. Ukur
panjang kuku ternak dengan mistar ukur, setelah dicatat kemudian bersihkan kotoran-kotoran atau batu pada kuku. Setelah
itu kuku diberi desinfektan dan dibersihkan lagi menggunakan sikat.
g. Selanjutnya
Buatlah pola dengan gerinda.
h. Gerakan
tangan memotong kuku ternak adalah mengiris, yaitu kama ditarik vertikal dari
atas ke bawah, bukan mencabik. Lakukan pemotongan menurut garis pola yang sudah
dibuat secara rata sampai kedua belah kuku betul-betul simetris dan rata.
i. Apabila
ada cekungan pada kuku, bersihkan menggunakan rennet.
j. Bila
dinding kuku masih terlihat tebal, gunakan gerinda atau alat kikir hingga 0,5
cm dari batas garis putih.
k. Setelah
selesai, panjang kuku diukur dengan mistar dan dicatat kembali kemudian kaki
ternak dan tali hirauchi dilepas
l. Mendipping
ternak pada cairan desinfektan yang tersedia di depan tempat potong kuku,
kemudian ternak dibawa kembali ke kandang.
m. Mesin
potong kuku yang telah selesai dipakai kemudian di sanitasi agar mesin tetap
terawat dan terjaga kebersihannya.
5. Desinfeksi Kandang
Desinfeksi kandang dilakukan setiap dua kali dalam sebulan dengan
menggunakan sprayer yang telah terisi larutan desinfektan dan disemprotkan ke
seluruh lantai, dinding, palungan dan halaman kandang. Tujuan dari desinfeksi
kandang adalah untuk
mengendalikan populasi mikroorganisme yang berpotensi menimbulkan penyakit
sehingga merugikan kesehatan ternak. Kegiatan
desinfeksi dapat menggunakan
desinfektan Bestadest dengan dosis 2,5 s/d 5 ml/liter (untuk 4m2) atau
Benzaklin dengan dosis 60 ml/10 liter air disemprotkan keseluruh lantai,
dinding, halaman kandang, dan kuku pejantan.
6. Kontrol Ektoparasit
Ektoparasit
adalah parasit yang hidupnya menumpang pada bagian luar atxau permukaan tubuh
inangnya, seperti berbagai jenis serangga (lalat, dll) serta jenis akari
(caplak, tungau dll). Keberadaan ektoparasit akan mengakibatkan ternak merasa
tidak nyaman, sehingga nafsu makan ternak menurun dan akan berdampak pada
kualitas produk ternak. oleh karena itu penyemprotan anti ektoparasit sangat
penting dalam agenda pencegahan penyakit. Penyemprotan anti ektoparasit
merupakan suatu tindakan pengendalian terhadap
parasit-parasit dari luar tubuh yang dapat mengganggu kesehatan ternak.
Ektoparasit dapat menyebabkan stres pada pejantan, serta dapat bertindak sebagai vektor
mekanik maupun biologis penyakit hewan.
Penyemprotan
anti ektoparasit dilakukan secara rutin setiap sebulan sekali menggunakan sunschin dengan obat anti
ektoparasit cyperkiller 25 WP (25% Cypermethrin dengan dosis 30 gr/50 liter air) dan disemprotkan ke bagian tubuh
ternak, seperti bagian perut, pantat, kaki dan punggung. Penyemprotan anti
ektoparasit dilakukan
sebaiknya tidak mencemari pakan, tempat pakan, dan air minum. Cypermethrin adalah piretroid
sintetis yang digunakan untuk keperluan rumah tangga. Ini berperan sebagai neurotoksin
cepat bertindak pada serangga. Dalam hal ini mudah terdegradasi di tanah dan
tanaman. Cypermethrin sangat beracun untuk ikan, lebah dan serangga air,
menurut National Pestisida Jaringan Telekomunikasi (NPTN). Cypermethrin banyak
ditemukan dalam pembunuh semut, dan pembunuh kecoa, termasuk Raid dan kapur
semut.
Anti
ektoparasit lain yang digunakan untuk ternak adalah gusanex. Cara
pemakaiannya yaitu dengan menyemprotkan gusanex pada bagian tubuh ternak
yang mengalami luka. Tujuannya agar luka tersebut segera kering dan tidak
dihinggapi oleh lalat yang selanjutnya akan menjadi tempat berkembangnya telur
lalat dan ektoparasit lainnya.
7. Biosecurity
Menurut
Winkel (1997) biosekurity merupakan suatu sistem untuk mencegah penyakit
baik klinis maupun subklinis, yang berarti sistem untuk mengoptimalkan produksi
ternak secara keseluruhan, dan merupakan bagian untuk mensejahterakan hewan (animal
welfare). Biosecurity adalah semua tindakan yang merupakan pertahanan
pertama untuk pengendalian wabah dan dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan
kontak/ penularan dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit (Dwicipto,
2010) .
Biosecurity merupakan tindakan perlindungan
terhadap ternak dari berbagai bibit penyakit (bakteri dan virus) melalui
pengamanan terhadap lingkungannya dan orang atau individu yang terlibat dalam
siklus pemeliharaan yang dimaksud. Tujuannya yaitu supaya bibit penyakit
(bakteri dan virus) yang terbawa dari luar tidak menyebar dan menginfeksi
ternak. Tindakan biosecurity meliputi :
a. Lokasi peternakan harus terbebas dari
gangguan binatang liar yang dapat merugikan.
b. Melakukan desinfeksi dan penyemprotan
insektisida terhadap serangga, lalat, nyamuk, kumbang, belalang disetiap
kandang secara berkala.
c. Setiap kendaraan yang akan masuk ke areal peternakan harus melewati
bak biosecurity dan disemprot, yang mana cairan yang digunakan adalah
cairan desinfektan (lysol).
d. Setiap petugas yang akan masuk ke kandang
diharuskan mencelupkan sepatu boot ke dalam bak biosecurity yaitu wadah
berisi desinfektan yang sudah disediakan.
e. Segera mengeluarkan ternak yang mati untuk
diotopsi lalu dikubur atau dimusnahkan.
f. Selain petugas dilarang memasuki areal
kandang.
g. Membatasi kendaraan yang masuk ke areal
kandang.
h. Meyediakan kendaraan khusus bagi tamu yang
berkunjung, contohnya seperti kereta biosecurity.
i. Untuk aktivitas di dalam laboratorium harus
menggunakan pakaian khusus berupa jas dan alas kaki khusus untuk laboratorium
8. Pemberian Obat Cacing
Pemberian obat cacing secara per oral dan dilakukan terhadap
seluruh ternak setiap pergantian musim. Ternaki yang mengidap parasit cacing sulit
diprediksi bila dilihat dari kondisi fisiknya sehingga untuk mengantisipasi
terjadinya infeksi dan berkembang biaknya cacing dalam tubuh ternak maka
diperlukan pemberian obat cacing. Dosis yang diberikan terhadap ternak ialah
menurut berat badannya. Pemberian obat cacing dilakukan terhadap seluruh ternak
setiap 6 bulan sekali. Obat
cacing yang digunakan adalah Albendazole dengan dosis 1 ml/10 kg berat
badan ternak.
9. Otopsi
Bila
terjadi kasus kematian ternak maka dilakukan otopsi atau bedah bangkai pada
hari yang sama. Setelah itu dilakukan patologi anatomi, diambil potongan kubus
1 cm pada organ yang terjadi kelainan, kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang
berisi larutan formalin 10%. Sampel tersebut kemudian dikirim ke laboratorium
untuk pemeriksaan lebih lanjut, baru kemudian dilakukan pencatatan atau laporan
mortilitas ternak.
Penyakit Yang Sering Diserang Pada Sapi Feedlot
1. Asidosis pada penggemukan sapi
Secara
fisik tanda-tanda asidosis : diare, mucus pada feces, dehidrasi, inkoordinasi,
akhirnya akan terjadi kematian. Sedangkan secara fisiologis tanda-tandanya
adalah terjadi peningkatan level asam laktat pada rumen, pH rumen dan pH darah
menurun, hemo konsentrasi, peningkatan tekanan osmotik dalam rumen, rumen
statis, penurunan jumlah protozoa rumen.
Asidosis
dapat terjadi karena sapi mengkonsumsi pakan yang kaya karbohidrat tersedia
secara berlebihan. Hal ini dapat terjadi karena adanya pengaruh manajemen dan
fisiologis.
a. Manajemen
o
Awal pemberian
pakan pada sapi

Sering sapi-sapi yang masuk ke dalam feedlot tidak pernah
diberi konsentrat secara berlebihan. Akan lebih baik menggunakan pakan kasar
(roughage) untuk sapi-sapi yang baru datang, kemudian secara bertahap diberi
konsentrat sampai akhirnya full feed.
o
Perubahan pakan

Bila level konsentrat ditingkatkan, harus diberikan
secara bertahap sehingga kalori yang dikonsumsi, peningkatannya juga bertahap.
o
Pakan dengan
energi tinggi

Sangat sulit dalam pemberian pakan dengan kandungan
konsentrat tinggi tanpa mengalami asidosis / kembung.
o
Cuaca dan musim

Kejadian
asidosis paling tinggi terjadi selama musim panas / pada waktu perubahan cuaca.
Hal ini karena pakan yang dikonsumsi berfluktuasi dalam jumlah dan kualitas.
o
Perbedaan
bangsa

Sapi
Brahman yang diberi konsentrat tinggi, level asam laktat dalam darah akan
meningkat lebih cepat dibandingkan dengan sapi Hereford atau Angus.
b.
Fisiologis
o
Motilitas rumen
berhenti / statis

Bila pH rumen menurun mendekati 5, kontraksi rumen juga
akan menurun dan akhirnya akan berhenti sama sekali karena banyak mikrobia
rumen yang mati.
o
Diare / dehidrasi

Dalam kondisi ini akan terjadi penurunan total air tubuh
sampai dengan 8% dari BB (pada domba). Cairan fecal yang hilang melalui diare
cukup besar dan terjadi ketika motilitas rumen terdepress.
2.
Asidosis
sistemik
Asidosis akut pada ruminansia disebabkan karena kelebihan
konsumsi KH fermentable yang menyebabkan penurunan pH karena produksi VFA dan
non VFA yang besar.
Selama
asidosis, bakteri pencerna selulosa dan protozoa jumlahnya menurun dengan
cepat. Dengan kata lain organisme yang menstabilkan lingkungan rumen berada di
bawah kondisi normal.
Pemberian pakan
dengan kandungan SK tinggi (roughage) akan membantu mengurangi terjadinya
asidosis, karena roughage mempunyai kemampuan buffer yang lebih baik daripada
konsentrat.
3. Gangguan gizi
· asidosis
Asidosis adalah gangguan gizi yang paling umum di penggemukan . Sejumlah besar feed sangat difermentasi , seperti biji-bijian sereal , dikonsumsi dalam waktu singkat dapat mengakibatkan produksi asam laktat lebih dari kaleng buffered oleh rumen . Hasil ini dalam air dari sistem peredaran darah ditarik ke rumen ( tubuh menjadi dehidrasi ) dan diucapkan perubahan Ph darah . Tanda-tanda biasanya akan akut atau sub - akut . Selamat asidosis akut mungkin memiliki masalah kronis seperti rumenitis jamur , abses hati , mengasapi , dan pendiri atau laminitis .
4. asidosis akut
Hewan yang tidak disesuaikan dengan mudah difermentasi feed lebih rentan terhadap asidosis (kadang-kadang disebut grain kelebihan) dari hewan yang telah disesuaikan dengan hati-hati. Namun, bahkan hewan dikondisikan untuk pakan penuh dapat rentan di bawah beberapa kondisi seperti perubahan pakan dan pembatasan sementara ketersediaan pakan. Akut hewan yang terkena biasanya akan mengembangkan tanda-tanda dalam waktu 12-24 jam dari makan berlebihan.
Mereka akan benar-benar pakan off, depresi dan tidak mau bergerak, lemah, dan dehidrasi. Mereka mungkin muncul buta, menggiling gigi mereka, mendengus, dan kadang-kadang menendang di perut mereka. Kepenuhan dan distensi abdomen (rumen) dapat diamati. Sebuah berbau busuk diare dapat diamati kecuali kondisinya demikian akut bahwa hewan mati sebelum dapat berkembang.
Pada kasus yang berat hewan akan berbaring, mampu bangkit. Mereka umumnya berbaring diam-diam dengan kepala mereka terselip ke samping. suhu tubuh mungkin subnormal dan denyut nadi lemah. Kematian biasanya terjadi dalam beberapa jam setelah hewan turun.
Hewan yang bertahan mungkin menderita dari lapisan rumen yang rusak dan kehancuran mikroflora rumen yang mengarah ke pertumbuhan berlebih jamur pada rumen dan kematian. Beberapa kematian dapat terjadi selama 3 minggu setelah episode kawanan makan berlebihan dan asidosis. rumen kerusakan lapisan kurang parah dapat menyebabkan abses hati dan gangguan pertumbuhan. Laminitis, atau pendiri, mungkin mengikuti asidosis akut, dan bukti subakut laminitis dalam bentuk kuku ditumbuhi dan cacat mungkin ada 30-60 hari kemudian.
5. subakut acidosis
Hewan dengan tanda-tanda kurang akut dan parah mungkin masih makan tapi mungkin tidak mengkonsumsi sebanyak normal atau off pakan hanya untuk waktu yang singkat. Satu-satunya tanda-tanda yang jelas dari subakut acidosis dapat dikurangi keuntungan dan kehadiran diare dalam bentuk tinja berwarna abu-abu. Karena kerusakan rumen lapisan masih mungkin terjadi tanpa adanya tanda-tanda parah, hewan-hewan ini dapat mengembangkan kerusakan rumen kronis dan abses hati.
kondisi cuaca dapat menyebabkan fluktuasi dari asupan jatah jika tidak dapat diterima. kondisi badai dapat menyebabkan ternak untuk mengkonsumsi sejumlah besar pakan sebelum dan sesudah badai. kondisi berlumpur yang dapat mengubah konsumsi pakan. Penurunan tekanan udara dapat menunjukkan kondisi badai yang mendekat. Kondisi yang mempromosikan asupan jatah reguler dalam jumlah waktu yang lebih singkat dapat menyebabkan asidosis. Hot, cuaca lembab akan menyebabkan sapi untuk makan proporsi yang lebih besar dari pakan mereka di malam hari, daripada siang hari.
Tidak tepat pencampuran pakan dapat menyebabkan asidosis. Sebagai manajemen tidur yang tidak tepat dibahas sebelumnya dapat menjadi penyebab asidosis. Hanya pembersihan sesekali palung air juga akan mempengaruhi asupan. Dimasukkannya Ionofor dapat membantu mengurangi fluktuasi asupan.
6. Pengobatan - akut Asidosis
Jika ternak perhatikan setelah mengkonsumsi sejumlah besar biji-bijian dan sebelum mereka minum air , masalah dapat dihindari dengan menjaga mereka dari air sampai 24 jam ( Baker et al . , 1983) . Beberapa pengobatan umum adalah pemberian oral minyak mineral dan / atau natrium bikarbonat bersama dengan arang aktif , terapi anti endotoksin , dan pengosongan bedah dari rumen dalam beberapa kasus .
· Bloat
Penggembungan terjadi ketika produksi gas rumen melebihi laju eliminasi gas . Gas kemudian terakumulasi menyebabkan distensi rumen . Kulit di sisi kiri dari binatang di belakang tulang rusuk terakhir mungkin muncul buncit .
Meskipun mengasapi sering diklasifikasikan sebagai baik rumput atau penggemukan mengasapi , itu mungkin lebih akurat untuk mengidentifikasi itu sebagai baik mengasapi bebas gas atau mengasapi berbusa . mengasapi berbusa lebih sering terjadi pada sapi makan kacang-kacangan atau rumput yang subur dari pada sapi penggemukan . mengasapi bebas - gas lebih sering terjadi pada sapi penggemukan .
7. Berbusa Penggembungan (Frothy Bloat)
Dalam situasi berbusa atau mengasapi berbusa , produksi gas tidak sangat meningkat tetapi gas yang terjebak dalam busa . mengasapi berbusa di penggemukan biasanya berkembang perlahan-lahan selama beberapa minggu dan sering menjadi kronis . Poloxalene adalah efektif " deformer " untuk mengasapi berbusa .
8. Free- Gas Penggembungan (Free-Gas Bloat)
Banyak faktor yang sama yang menyebabkan asidosis terkait dengan mengasapi bebas gas . Oleh karena itu manajemen tidur yang tepat dan langkah-langkah pencegahan lainnya harus dilakukan untuk pencegahan mengasapi .
9. Tanda klinis
Hewan menderita bate urine mungkin pada awalnya tampak gelisah dengan sering mengejan dalam upaya gagal untuk buang air kecil . Mereka mungkin berulang cap pakan dan tendangan mereka di perut . Dalam beberapa kasus ketika penyumbatan kemih tidak lengkap , urin dapat menggiring bola perlahan dari sarungnya . Setelah penyumbatan lengkap aliran urine , kandung kemih atau uretra akhirnya pecah melepaskan urin ke dalam rongga tubuh dan jaringan sekitarnya . Pada tahap ini hewan dapat menunjukkan kerugian lengkap nafsu makan dan berdiri diam-diam atau berbaring . Sebuah hasil uretra pecah dalam pembengkakan besar di bawah kulit di depan skrotum .
10. Fosfat batu urine
Tingkat fosfor dan kalsium - fosfor tinggi ketidakseimbangan mempromosikan jenis bate urine . Konsumsi air yang lebih rendah oleh hewan selama musim dingin diyakini menjadi alasan penting untuk kejadian bate lebih tinggi kemih terkait dengan musim itu . air keras sering disalahkan atas terjadinya bate urine . Namun , kalsium dan magnesium yang merupakan " kekerasan " air telah ditemukan untuk mempromosikan perlindungan terhadap bate urine fosfat . Metode pencegahan terbaik untuk menjaga 2 : 1 sampai 1,2 : 1 kalsium untuk rasio fosfor .
FOOT ROT
BPB bukan gangguan gizi , tetapi langkah-langkah pencegahan yang tersedia melalui makan . agen kemoterapi digunakan dalam pakan meliputi : zinc metionin ( ZinproTM ) , oxytetracycline , klortetrasiklin . Namun , produk ini bukan pengganti untuk menjaga banyak bersih dan kering .
11. Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak
langsung, makanan/minuman atau pernafasan. Gejala: (1) demam tinggi, badan
lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar
dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah
berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan
vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak
dan berwarna kehitaman. Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika,
mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
12. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau
penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab:
virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air
liur, selaput lendir dan benda lain yang tercemar kuman AE.
Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan. Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.
Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan. Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.
13. Penyakit ngorok/mendekur atau
penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui
makanan dan minuman yang tercemar bakteri. Gejala: (1) kulit kepala dan selaput
lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan
vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam
dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang
ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36
jam. Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.
14. Penyakit radang kuku atau kuku busuk
(foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang
yang basah dan kotor. Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan
mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan
yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.
Pencegahan terhadap penyakit sapi dapat dilakukan dengan
beberapa cara, antara lain: (1) pemilihan sapi bakalan yang betul-betul sehat,
2) Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.
(3) Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.
(4) Mengusakan lantai kandang selalu kering, (5) Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk. (6) pemilihan lokasi dan kandang yang memenuhi syarat, (7) pemberian pakan yang baik, (4) vaksinasi dan pengobatan (Darmono, 1993). Tindakan higiene meliputi usaha kebersihan lingkungan kandang, seperti lantai yang bersih dan kering, drainase sekitar bangunan kandang yang baik, pengapuran dinding kandang yang teratur, pengaturan ventilasi kandang yang sempurna, dan mampu membentengi dari serangan berbagai jenis infeksi penyakit.
(3) Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.
(4) Mengusakan lantai kandang selalu kering, (5) Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk. (6) pemilihan lokasi dan kandang yang memenuhi syarat, (7) pemberian pakan yang baik, (4) vaksinasi dan pengobatan (Darmono, 1993). Tindakan higiene meliputi usaha kebersihan lingkungan kandang, seperti lantai yang bersih dan kering, drainase sekitar bangunan kandang yang baik, pengapuran dinding kandang yang teratur, pengaturan ventilasi kandang yang sempurna, dan mampu membentengi dari serangan berbagai jenis infeksi penyakit.
Pada umumnya tubuh sapi mudah kotor akibat kotoran sapi itu
sendiri. Atau berupa daki yang terdiri dari timbunan debu dan keringat yang
melekat pada tubuhnya. Agar selalu bersih, badan sapi harus dimandikan sehari
sekali. Caranya kulitnya digosok-gosok dengan sikat atau spons, atau bahan lain
hingga bersih. Sapi yang kulitnya bersih, air keringatnya akan keluar dengan
lancar, pengaturan panas di dalam tubuh menjadi lebih sempurna, dan parasit
kulit atau gatal-gatal tidak mudah menghinggapinya.
Vaksin
Yang Sering Digunakan Pada Penggemukan Sapi Potong
Pemberian vaksin cukup
dilakukan pada saat sapi berada di kandang karantina. Vaksinasi yang penting
dilakukan adalah vaksinasi Anthrax. Berbagai obat cacing yang sering digunakan
adalah rintal boli, valbazen, dan lain sebagainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar